by

Kok Bisa Pengrajin Tahu Tempe di Banten Lebih Milih Kedelai Impor?, Ini Penjelasannya

SERANG (OneBanten) — Belakangan publik dibuat heboh dengan isu kelangkaan tempe dan tahu. Menurut Kepala Distan Provinsi Banten Agus Tauchid, harga kedelai sebagai bahan baku pembuat tempe dan tahu kini memang tengah mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

“Kedelai di Banten, data di koperasi produsen tahu tempe Indonesia, kebutuhan kedelai untuk industri tahu tempe di Banten mencapai 44.713 ribu ton pertahuan,” ucap Kepala Distan Provinsi Banten Agus Tauchid saat diwawancara, Selasa, 12 Januari 2021.

Dia mengaku produksi kedelai di Banten tahun 2020 sangat kecil hanya menghasilkan 834 ton kedelai, berarti hanya mampu memenuhi 1,8 persen dari kebutuhan total di Banten 44,713 ton.

“Selama ini harus diakui bahwa kebutuhan kedelai sebagai bahan baku tahu tempe hampir semua impor. Kenapa bisa seperti itu?, karena kalau dari Impor itu bijinya gede-gede, sementara di Banten bijinya kecil,” kata Agus.

Dia menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan produksi kedelai di Banten kurang diminati, pertama rendahnya minat petani Banten untuk menanam kedelai, sebab, harga jualnya masih rendah.

“Karena lagi-lagi harga juga, ini harga jual kedelai lokal rendah sekali. Bisa dibayangkan kalau harga perkilogram kedelai di tingkat petani masih dihargai dibawah Rp5 Ribu mohon maaf petani tidak berminat,” tambahnya.

Selain itu, karena budidaya kedelai lebih rumit dibanding jagung.

“Karena tingkat penyebaran penyakit hama pada kedelai sangat tinggi,” imbuhnya.

Lebih lenjut Agus, kedelai merupakan tanaman asli sub tropis, bukan tanaman asli Indonesia. Sehingga tidak cocok jika ditanam di Indonesia, akibatnya hasil panennya bijinya lebih kecil.

“Kami akan melakukan berbagai upaya untuk mendongkrak agar kedelai asli Banten dapat dijadikan sebagai bahan baku produksi tempe dan tahu,” tandasnya. (Zie)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed