by

Kisah Pilu Entin, Nenek Buta yang Tak Pernah Dapat Bantuan dari Pemerintah

KABUPATEN TANGERANG (OneBanten) — Masa pandemi virus Corona atau Covid-19 banyak memukul penghasilan warga pekerja harian. Tak terkecuali Entin (65) Warga Kampung Cibogo Kulon RT 06/02, Kelurahan Kelapa Dua, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang itu tak pernah merasakan bantuan dari pemerintah.

Entin sendiri bahkan sudah enam tahun menderita katarak. Sehingga tidak lagi bisa beraktivitas mencari nafkah karena gangguan penglihatan. Padahal tempat tinggalnya hanya berjarak sekitar 15 meter dari kluster perumahan elit di Kelapa Dua.

Entin memiliki tiga orang anak. Dua perempuan yang sudah berumah tangga dan satu laki-laki yang masih membujang.

“Anak laki-laki emak kerja di sekolah. Tukang membuang sampah digaji Rp300 ribu sebulan. Sama seperti emak tidak bisa melihat,” ucapnya kepada awak media yang mengunjunginya, Senin, 15 Februari 2021.

Entin setiap hari kerap menahan lapar sampai anak bujangnya itu pulang dari tempat kerja. Bahkan Rumah Entin juga cukup memprihatinan, beberapa kayu di rumahnya tampak lapuk bahkan sudah miring dimakan usia.

Dapur berada disebelahnya berukuran 2 kali 1 meter persegi. Sedangkan, kamar anak perempuannya yang sudah menikah terpisah berukuran satu kali dua meter. Tempat yang ditinggali Entin terlihat seperti kamar yang berlokasi di belakang rumah saudaranya.

“Belum makan pak. Anak belum pulang ke rumah. Saya sudah tidak bisa melihat jadi tidak bisa memasak lagi,” tambahnya.

Saat ditanyai soal bantuan, Entin mengaku belum pernah mendapatkan baik sembako maupun uang tunai. Apalagi terdaftar sebagai penerima bantuan program keluarga harapan (PKH). Ia mengatakan, belum pernah mendapat bantuan paket sembako maupun uang tunai sejak awal pandemi Covid-19.

“Baru kemarin kartu keluarga dan KTP diminta pak RW setelah pak lurah dan pak dandim serta bu camat menengok ke sini. Sebelumnya belum pernah dapat bantuan apa-apa. Baru kemarin sembako dan uang dari pak dandim,” jelasnya.

Entin mengaku hanya bisa mengelus dada mendengar adanya bantuan sembako maupun uang tunai namun tidak menerima dan namanya tidak pernah disebut.

“Emak hanya bisa diam saja. Hati mah sakit. Yang sehat menerima sementara emak yang seperti ini tidak,” akunya sambil mengusap air mata saat mengingat kejadian adanya paket bantuan namun dirinya tidak dapat.

Untuk kehidupan sehari-hari, Entin mengandalkan uang dari menantu yang menikahi anak bungsunya. Sebelumnya, apabila tidak memiliki uang dan beras, ia mengumpulkan sampah plastik untuk membeli makan.

“Menantu emak kerja di Gading Serpong, tukang menyiram tanaman. Sehari dibayar Rp60 ribu. Sekarang Alhamdulillah ada pemasukan,” pungkasnya. (zie)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed