by

Raden Aria Wangsakara, Penyebar Agama dan Tokoh Perjuangan di Tangerang

KABUPATEN TANGERANG (OneBanten) – Membahas cerita di masa lampau tentang Tangerang, jelas takkan ada habisnya. Dibalik cerita-cerita itu semua tentu tak terlepas dari peranan perjuangan para pahlawan. Salah satu pahlawan pejuang Tangerang yang biasa akrab di telinga kita tak lain ialah Pendekar Cisadane.

Namun, selain Pendekar Cisadane dan sederet pahlawan lainnya, adapula pahlawan dari Tangerang yang sebetulnya kita semua seringkali mengetahui nama tersebut pada sebuah jalan atau tempat, akan tetapi sebagian masyarakat belum begitu mengenal bahwa ia adalah salah satu pahlawan yang tercatat di tinta emas sejarah sebagai pahlawan Tangerang. Pahlawan itu ialah Aria Wangsakara, ulama sekaligus pahlawan perjuangan Tangerang.

Arya Wangsakara adalah salah seorang pendiri Tangerang dan karena letak lokasinya juga yang cukup strategis di desa Lengkong Kyai – Pagedangan, bersebelahan dengan Perumahan Bumi Serpong Damai (BSD). Di atas lahan seluas kurang lebih 3.5 hektar, Taman Makam Pahlawan ini sudah diresmikan oleh Bupati Tangerang. Sebelumnya, luas lahan TMP Aria Wangsakara hanya sekitar 2 hektar. Kini sudah ditambah sekitar seluas 1.5 hektar, sehingga luasnya menjadi 3,5 hektar ke arah barat.

Raden Aria Wangsakara adalah pria yang mencoba mengembara ketika terjadi bentrokan keluarga di Kerajaan Sumedang Larang, sebuah kerajaan yang terbesar di tatar tanah Sunda setelah kerajaan Pajajaran runtuh.

Selain dikenal sebagai pejuang Aria Wangsakara juga dikenal sebagai ulama penyebar agama Islam, penyebaran agama Islam dikala itu membuat Belanda takut.

Keberadaan pusat-pusat penyebaran agama Islam pada jaman pendudukan Belanda, adalah hal yang paling ditakutkan Belanda. Terlebih, pusat penyebaran agama tersebut berada di dekat wilayah kekuasaannya. Itulah alasan, kenapa Belanda harus menyerang Pesantren Grendeng yang lokasinya di tepi barat Sungai Cisadane, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang.

Peristiwa tersebut terjadi sekitar tahun 1640. Penyerangan itu menandai terbentuknya tempat hunian baru di Lengkong, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang. Di tempat ini santri-santri dari Pesantren Grendeng yang terusir Belanda, kemudian membangun masjid dan membuat pesantren baru di bawah kepemimpinan Aria Wangsakara.

“Beliau merantau dari Kerajaan Sumedang Larangan dan memilih ke wilayah Tangerang. Karena tidak sepaham dengan saudaranya yang berpihak kepada penjajah Belanda, dan Beliau ikut berjasa dalam memimpin perlawanan terhadap penjajah Belanda paska perang selama 7 bulan, perebutan wilayah antara VOC Belanda dengan Kesultanan Banten diwilayag Tangerang,” ucap Munawar, salah seorang penjaga Makam Pahlawan Raden Aria Wangsakara, Jumat, 5 Maret 2021.

Penempatan Makan Aria Wangsakara, sebagai cagar budaya di wilayah Kabupaten Tangerang, banyak pungunjung atau peziarah yang berdatangan ke Makam Aria Wangsakara.

“Biasanya yang sering ramai peziarah dibulan maulid atau dimalam jumat, pendatang dari sekitaran wilayah Tangerang bahkan ada yang datang dari jauh wilayah Tangerang. Biasanya yang berdatangan bisa sampai 50 orang bahkan bisa sampai 80 orang” ucap warga sekitar.

Banyak hal-hal yang masih dijalakan hingga saat ini oleh warga sekitar Pagedangan, yang akan sangat kental dengan peninggalan Raden Aria Wangsakara.

Dalam beberapa literatur sejarah Kabupaten Tangerang disebutkan, Aria Wangsakara pergi dari Sumedang ke Tangerang bersama dua saudaranya, masing-masing Aria Santika dan Aria Yuda Negara.

Ketiga tumenggung dari Sumedang ini, kemudian mendapatkan restu dari sultan Banten di bawah kepemimpinan Sultan Maulana Yusuf untuk bertugas menjaga wilayah dari tindakan kompeni dengan membangun benteng di Lengkong Kyai yang terletak di tepi Sungai Cisadane sebelah barat sampai bendungan Sangego.

Di Lengkong Kyai, Aria Wangsakara menetap bersama isterinya, Nyi Mas Nurmala, seorang anak dalem Bupati Karawang Singaprabangsa. Di tempat ini pula bermukim pengikutnya yang berjumlah sekira 500 orang.

Pada tahun 1652-1653 M, VOC yang sudah mencium aktivitas penyebaran agama di Lengkong Kyai ini, kemudian mendirikan benteng di sebelah timur Sungai Cisadane yang persis berseberangan dengan wilayah kekuasaan Aria Wangsakara. VOC juga memprovokasi dan menakuti warga Lengkong Kyai dengan mengarahkan tembakan meriam yang diarahkan ke Lengkong Kyai.

Sikap Kompeni ini memicu pertempuran antara Kompeni Belanda dengan rakyat Tangerang di bawah kepemimpinan Aria Wangsakara. Peristiwa ini kelak akan disebut sebagai titik awal tumbuhnya jiwa patriotik rakyat Tangerang di bawah kepemimpinan Aria Wangsakara.(Irfan/zie)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed