Menu

Mode Gelap
Diduga Berkelahi, Santri Ponpes di Jayanti Meninggal Dunia Perkuat Komitmen, DPRD Teken Pakta Integritas dengan Kejari Kabupaten Tangerang Ratusan Anak Ikuti BIAN di Kelurahan Kelapa Dua Tersangka Kasus Pupuk Kembalikan Uang Negara Rp110 Juta FOPKIA dan PWI Kabupaten Tangerang Teken MoU

Uncategorized · 18 Jan 2022 11:04 WIB ·

Pelaku Pemerkosaan Gadis Penyandang Disabilitas di Serang Dibebaskan


 Ilustrasi. Perbesar

Ilustrasi.

SERANG (OneBanten) — Polisi membebaskan dua pelaku pemerkosa terdahap gadis penyandang disabilitas di Kota Serang, usai laporan terhadap keduanya dicabut.

Kedua tersangka ini yakni, EJ (39) paman korban dan SM (46) tetangga korban, melakukan aksi pemerkosaan terdahap gadis penyandang disabilitas dan terungkap oleh Satreskrim Polres Serang Kota pada tanggal 25 November 2021 lalu.

Kasatreskrim Polres Serang Kota AKP David Adhi Kusuma membenarkan kedua tersangka tersebut sudah bebas. Hal itu karena kasus pemerkosaan yang menimpa Y sudah dicabut oleh sang korban.

“Benar, sudah ada permintaan pelapor untuk mencabut LP,” kata David.

Menanggapi hal tersebut, Pemerhati Hukum Pidana, Uday Suhada mengatakan, tindak pidana pemerkosaan sebagaimana diatur dalam Pasal 285 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), merupakan delik biasa dan bukan delik aduan. Artinya, proses hukum dapat berjalan meskipun tanpa laporan.

“Mengingat, bunyi Pasal 285 KUHP sudah jelas menyebutkan barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa perempuan yang bukan istrinya bersetubuh dengan dia, dihukum, karena memperkosa, dengan hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun,” ujar Uday.

Oleh karena itu, sambung Uday, pihak kepolisian dalam hal ini penyidik, tetap berkewajiban untuk melanjutkan proses perkara perkosaan tersebut tanpa adanya persetujuan dari pelapor atau korban.

“Pencabutan laporan yang dilakukan oleh pelapor tidak dapat menghentikan proses penegakan hukum terhadap tersangka pelaku tindak pidana perkosaan,” katanya.

Ia menilai, pembebasan pelaku sebagai tindakan pembiaran dan impunitas terhadap kasus pemerkosaan. Sebab membuka peluang pelaku mengulangi kekerasan seksual yang sama pada korban atau orang lain.

“Apalagi, jika korbannya adalah masyarakat difabel. Hal itu akan mencederai pelaksaan Undang-undang (UU) Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas,” tegasnya.(Hendra)

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

TopSugarDaddyApps.com Offers High, Effective Guys and Younger, Beautiful Ladies

13 April 2022 - 18:28 WIB

Kecelakaan di Tol Tangerang-Merak, 2 Penumpang Bus Asli Prima Tewas

18 January 2022 - 11:19 WIB

Kecelakaan di Tol Tangerang-Merak, 2 Penumpang Bus Asli Prima Tewas
Trending di Uncategorized

Sorry. No data so far.